Jumat, 28 November 2008

Merindukan Ibu


Dalam sedih, tiba-tiba teringatku pada ibu yang meski raganya tak lagi menemani tapi hadirnya selalu kurasakan.. Saat memandangi putraku, kuingat begitu pula dulu ibu membelai lembut rambutku sambil mendendangkan nina-bobo. Liburan ke pantai, meskipun ibu tak bisa berenang, tapi beliau menyemangati anak2nya supaya jago renang bahkan diving untuk melihat keindahan alam bawah air (akhirnya saya sukses bertemu ikan hiu sewaktu menyelam di Gili Terawangan). Liburan panjang sekolah, ibu selalu punya 1001 rencana seru, keliling Asia Timur, Eropa bahkan Amerika... Bagian terbaik adalah ketika saya melihat Museum Hermitage di St. Petersburg, keindahan dan kemegahannya sungguh menakjubkan (dulu sekali, saya pernah berjanji pada ibu, akan mengajaknya kembali kemari bersama keluargaku, karena perlu waktu lebih dari sehari untuk mengelilingi museum itu).
Kemana hidup membawa, kita tak pernah tahu... Begitu pula ketika ibu tiada, kesedihan bisa terhapus, tetapi tidak kerinduan.. Kerinduan pada kebiasaan-kebiasaan hidup sehatnya, food combining, jalan kaki pagi2 (seringkali kemudian ibu ketakutan karena dikuntit anjing tetangga), puasa 5 hari tiap salah satu dari kami mau ujian (biasanya sih ibu puasa buat saya, kenapa bukan saya yang puasa sendiri ya?), kebiasaan berbagi cerita saat makan siang bersama...
Dulu sekali ibu pernah bilang, ”Diantara anak2, kayaknya kamu yang paling ngerti ibu. Hobinya sama (kecuali olahraga!!), suka membaca, nonton film kuno (saya tergila2 dengan Fred Astaire dan Judy Garland, bintang Amerika thn 40-an, yang filmnya Easter Parade menjadi film favorit saya hingga kini), dan hobi sastra (bila ibu gemar membuat puisi dan mengarang cerpen dengan nama pena Siti Fatimah, saya lebih ekspresif dalam dunia teater dan berpuisi), bahkan zodiak pun sama”
Ibuku mungkin bukan ibu yang ideal sebagaimana ibu2 di sinetron Indonesia. Ia tak bisa memasak (rumah kami hampir terbakar sewaktu beliau mencoba memasak) begitu pula dengan pekerjaan rumah tangga lainnya (sehingga kami sungguh sangat tergantung pada pembantu), tak bisa menyetir (sehingga sangat tergantung pada sopir) dan tak mau membawa hp (karena males belajar menggunakannya). Tapi untuk anak2nya, ialah juaranya.. menonton adikku bertanding basket sampai ke Yogya, menonton pementasan teater saya, dan nasehat2nya yang tak ada habisnya untuk kami, apalagi saat kerusuhan thn 2001, ibu menjadikan rumah kami sebagai tempat penampungan sementara untuk teman2 Kristiani kami yang rumahnya hancur oleh karena amuk massa...
26 Januari 2005, ibu meninggalkan kami selama-lamanya. Ia sudah tak sanggup lagi melawan kanker paru yang makin berat menggerogoti tubuhnya.. Saat pemakamam, kami terhenyak dan takjub melihat begitu banyak orang yang mengantar kepulangannya di sisi Allah, kata kakakku, ”Ibu pasti bahagia ya, yang mengantar buannyaak bangett... terus cita2nya dikubur di dekat pantai pun tercapai...” Ternyata, dalam hidupnya ibuku dicintai dan akan selalu dikenang oleh begitu banyak orang..
Ibu pernah bilang, ”Waktu hamil kamu, hati ibu paling gembira dan senang... kamu sering ibu bacakan puisi dan dongeng terus kamu sepertinya ngerti lagi .. makanya kamu yang paling aneh diantara saudara2mu..”
Ibuku mungkin bukan ibu yang ideal, tapi sungguh saya sangat, sangat menyayanginya..
Semoga dimanapun ia berada, langkahnya selalu menuntun langkahku...

Cinta Melalui Kanker adalah puisi yang dibuat ibu sewaktu beliau sedang berperang melawan kanker endometrium pada tahun 1997 dan she survived... Puisinya ini adalah ungkapan terima kasih pada orang2 yang selalu memberi dukungan padanya, salah satunya yang saya muat disini adalah ungkapan syukurnya karena dukungan kami, anak-anaknya...

Tanpa anak-anakku

Ketika pamit dengan Cece kulihat air-muka yang tenang
Percaya diri yang besar
“Ibu” katanya pelan “Aku mempunyai perasaan sakitmu
tidaklah parah” “Akupun demikian”hiburku.
Siapa yang harus dihibur sebenarnya?
Penyakit ini meluluh-lantakkan keluargaku
Penderitaanku tak terlerai, tapi merekapun
Sangat menderita: cemas, was-was, berharap, berdoa.
Bungsuku kubelai sayang , kukatakan
Patuhlah pada yundamu,kunjungi aku kala libur.
Tak pernah ada sepatah katapun terucap darinya
Kecuali satu setengah tahun setelah pengobatanku
“Ibu, tidakkah kau harus periksa”
kali kedua dikatakannya, kujawab:
“Dokter mengatakan aku tak usah kontrol lagi”
air mukanya tampak gembira, karena dia
masih bisa melalui hari-harinya bersamaku.

Apa jadinya aku tanpa Lia?
Dari kampusnya di Salemba setiap hari dia pulang-pergi
Ketempatku yang jauh dari tempat kostnya.
Kampus ditinggal dulu, ah, buat menemaniku
Dengan tangannya yang erat menggandeng jari-jemariku
Akupun menjadi kuat, dan bisa menuliskan ini
Yang kuhadiahkan buatnya.




Cerita tentang Morning yang merepotkan...

Morning report kills me... Selalu morning report yang jadi momok untuk residen obgin di Sanglah, ajang pertumpahan darah dan airmata (catat: bukan ajang berbagi dan membagi ilmu antara guru dan murid), ajang tempat penghitungan morbiditas residen (walaupun mungkin pasien yang kami tangani tak tahu betapa beratnya perjuangan kami mempertahankan kasusnya..) dan ajang tempat kami merasa menjadi pesakitan (dan hal itu pula yang membuat sakit kepala dan mules2 saya kumat tiap mau jaga)… Kenapa hidup dibuat begitu susah ya??
Bila diambil sisi positifnya, mungkin begitulah cara guru2 kami menunjukkan rasa sayang pada kami, murid2nya… membentak, memarahi dan selalu meragukan ucapan dan tindakan kami (bila ditilik retrospektif, dulu mereka pun pernah menjadi murid, hmm.. apakah ini berarti??). Sedihnya hatiku, dari sekian banyak supervisor yang kami miliki, yang benar-benar memiliki jiwa pendidik mungkin hanya sepertiga saja, yang bersedia turun langsung membimbing kami, memberi kuliah yang bermanfaat (tidak sekedar sumbang suara ‘sumbang’ saat morning report) dan bersedia mendengar keluh kesah kami.. Sisanya? Entahlah…
Sisi negatifnya, rasa sayang yang cukup aneh ini, seringkali membuat kami rikuh dan memilih untuk pasang jarak dengan guru2 kami itu. Rasa takut makin menjadi, kami tak berani bertanya, sehingga seringkali pasien2 kami menjadi korban..
Morning report kills me... ketika sebagai chief, saya dianggap menyembunyikan ’sesuatu’, ketika saya ingin menjelaskan tetapi kemudian penjelasan itu berbalik menjadi serangan bertubi-tubi yang akhirnya membuat saya berpikir ’diam itu emas’, ketika kemudian pada akhirnya saya berpikir, kenapa hidup dibuat begitu susah ya?? Pada akhirnya, kemarahan supervisor, tuduhan-tuduhan mereka termasuk segala macam bentuk rasa ’sayang’ yang mereka ajarkan pada kami kuanggap sebagai bumbu2 pendidikan obgin, karena seusai morning report kami akan kembali pada pasien kami, melihat senyum yang terpancar di wajah mereka sembari meneteki bayi mereka yang sudah kami lahirkan semalam... Menurutku, ’pembunuhan’ di morning report sudah terbalas....

Selasa, 25 November 2008

Thanks for being you


Dedicated to my spiritual teacher, Ariani.
Akhirnya sahabat saya menyelesaikan ujian terakhirnya dan berhasil meraih gelar SpOG setelah beberapa tahun pendidikan ia jalani. Sahabat yang sudah kuanggap sebagai saudara (karena begitu seringnya kami tuker2an baju, padahal dengan kakak saya sendiri aja malah nggak pernah.), rumahnya sering kujadikan tempat makan siang, makan malam sekaligus markas curhat (merangkap sebagai tempat foto, karena desain rumahnya yang unik) dan Wibi akan ’membajak’ mbaknya buat bermain bermain bersama. Ayah-ibunya sudah kuanggap sebagai orang tua sendiri, karena keluarga mereka ini memang begitu penyayang (jadi diriku yang terlantar ini merasa mendapat pengganti keluarga yang sudah lama kurindukan).
Perjalanan persahabatan kami dimulai dari pendidikan PPDS, dia senior satu semester diatas saya dan karena kebiasaan jaga bersama dan kadang2 kami ditempatkan di tempat yang sama dalam satu siklus membuat kami menjadi dekat. Satu hal yang membuat saya bisa dekat dengannya adalah karena sahabatku ini begitu mengerti diriku dan dia sungguh2 sangat baik (menurutku, kebaikannya bisa disandingkan dengan malaikat, andai saya pernah ketemu dengan malaikat, hehehe...). Setiap saya berkeluh kesah padanya, maka nasehatnya yang kuingat adalah, ” Be positive. Ketika kita dianggap jelek atau dimusuhi, jangan sekali-kali kita membalas dengan hal sama, sebaliknya, tunjukkan kebesaran hati kita dengan menerima kekurangan itu berusaha memperbaikinya.” Beberapa kali sahabatku ini menjadi tempat tumpahan airmataku dan selalu setelah itu saya menjadi tenang karenanya. Hal yang paling nggak masuk akal adalah ketika suami saya sempat mencemburuinya karena mengganggap persahabatan kami ini terlalu akrab (Guys, sahabatku ini kan perempuan)
Kuharap persahabatan ini akan menjadi kekal, walaupun kami akan terpisahkan oleh jarak dan waktu. Apalagi sekarang setelah sahabatku ini meraih dua gelar sekaligus, yuup... dalam waktu dua minggu, dia sukses mencapai gelar nyonya dan SpOG.. ketika dia harus sibuk mempersiapkan ujian nasional, dia juga sibuk2 mengurus pernikahannya yang serba mendadak karena tak ada lagi ’hari baik’ setelah bulan2 ini (begitu kata para tetua) Hmmph...
Sahabatku memang sudah tak sebebas dulu lagi, apalagi semenjak ia sudah menjadi seorang istri. Tapi melihatnya sekarang begitu bahagia dan menikmati hidupnya, kurasa itu wajar untuk orang sebaik dia.. Sesekali saya merindukan saat2 kami makan pizza di dobel six, nonton musik di Hard Rock sambil bergaya abg dan makan kepiting sampai bibir leleh kebanyakan gosip di Cak Ar... Tapi hidup terus berjalan, untukku dan untuk dia..
Yang pasti, sebagai seorang sahabat, ketika saya memerlukannya, dia akan selalu hadir untukku, dan buat saya itu yang paling penting...

Jumat, 21 November 2008

Wibisana


Kunamakan putraku Wibisana Anugrah. Wibisana karena saya ingin ia menjadi orang yang tetap memihak kebenaran meskipun kejahatan dan kesewenang-wenangan menggodanya, yayaya... memang nama ini terinspirasi dari Wibisana, saudara Rahwana, raja Alengka si penculik Dewi Sinta, dalam pewayangan Ramayana. Anugrah dibelakangnya karena hadirnya putraku ini merupakan anugerah yang tiada tara yang telah dititipkan Sang Pemilik Kehidupan pada saya.
Saya memiliki Wibi saat baru masuk residen (senior2 keheranan, punya anak kok masuk sekolah, di obgin lagi..), jadi setelah umur tujuh hari, saya merelakan Wibi diasuh oleh eyang putrinya di Lombok sampai umur 3 bulan. Hanya tujuh hari waktu untuk mengenal putraku itu dan saat umurnya 3 hari, ksatria kecilku itupun terpaksa diopname di RS karena diare (Ya Allah, ibu macam apa saya ini?). Kakak saya yang mendampingi saat itu sampai menangis karena nggak tahan melihat perawat2 menusukkan jarum infus berulangkali (karena nggak berhasil menemukan pembuluh darahnya) sampai akhirnya pencarian berakhir di pembuluh darah kepala… Sedih banget ya, ibunya dokter, tapi merawat anak sendiri aja nggak bisa… dan sampai usianya tiga bulan, waktu libur kejepit di pendidikan lebih banyak saya gunakan untuk melihat perkembangan putraku di Lombok (masa2 itu saya harus sering2 merayu teman untuk rela tukar jaga.. what a life..) Empat tahun sudah berlalu, begitu banyak yang telah terjadi dalam hidup saya, diawali oleh meninggalnya ibu saya (tak terkira justru hadirnya sangat saya rindukan saat beliau telah tiada), ayah menikah lagi kurang dari setahun setelah ibu tiada (dan hal ini masih membuat hubungan kami merenggang hingga sekarang) dan yang paling parah adalah saya memutuskan untuk menjadi orang tua tunggal buat Wibi (yep, I decided to separate with my dear hubby) karena ternyata visi kami sudah tak sejalan lagi…
Seringkali muncul dalam benak saya, apa jadinya hidup dengan masalah begitu banyak dan Wibi tak ada ya? Teman2 menganggap saya perempuan yang kuat dan tabah, karena mereka sama sekali nggak pernah ‘melihat’ masalah di wajah saya yang selalu hepi, hepi, hepi… Padahal hati ini merintihhh…
Kunamakan putraku Wibisana Anugrah. Karena sekarang dia sudah mulai masuk playgroup dan (kebetulan) mulai belajar bahasa Inggris, lalu tadi sepulang kami dari bepergian, dia bertanya “Bu, bahasa Inggrisnya sepeda motor apa?”
“Apa ayo?” saya balik bertanya. “Motong tiker (dengan suaranya yang cadel itu)”
”Haaah, motong tiker??? ” saya keheranan, dia ketawa, ”Bukan, ibu ini kok ndak tau ciih..” ucapnya sok tua gituu...
Akhirnya setelah menebak beberapa kata yang kira2 dekat jawabannya dan Wibi makin terbahak2, akhirnya saya mulai paham, ”Aahh, motorcycle ya?”.
Lalu Wibi menatap wajah saya senang dan menahan tawa, ” Iya..”
”Haduuh, Wibi, Wibi, motorcycle kok jadi motong tiker siih...” akhirnya kami tertawa bersama2, bukan lagi seperti ibu-anak, tapi seperti sepasang sahabat yang menertawakan kekonyolan masing2. Saat itu saya menyadari... ksatria kecilku ini adalah hadiah terindah yang ada dalam hidupku dan tulisan ini harus berhenti karena it’s time for Wibi’s bedtime story...

Rabu, 19 November 2008

Bedtime story


Hari ini terasa begitu panas juga melelahkan dan entah kenapa, tiba-tiba saya ingin menangis...
Pengalaman pertama saya sebagai chief jaga semalam ternyata masih belum bisa menghapus cap yang sudah kadung menempel di kepribadian saya... HELL!! Menurut saya nih, I did my job and hooray hooray, looks like everybody had a good time last night including our patients, but sadly, bukan seperti itu yang dilihat oleh supervisor kami yang terhormat.. . pertanyaan2 yang tak terjawab, kemarahan2 yang tak berujung pangkal, membuat kami lebih banyak diam dan berdoa semoga kemarahan ini hanya sesaat (susah juga kan kalau punya supervisor pendendam, hiii…)
Jaga pertama kemarin, pasiennya memang nggak banyak, tapi kenapa hati ini tetap nggak tenang ya? Mencoba untuk tidur sebentar aja (saat jaga memang gak boleh tidur sih, tapi kalau jaganya ber-11, dan paginya harus kembali tampil prima, nonono.. gunakan waktu seefektif mungkin, nggak ada pasien, mari tiduuur…), tetap nggak bisa. Mata terpejam, tapi pikiran melayang kemana2… Guys, keadaan ini sungguh saat menyebalkan… Mungkin Mr. Bean akan menyarankan menghitung anak domba sampai 100, tapi justru yang terlintas di benak saya ada 101 varian kasus yang(mungkin) akan datang tiba2 di waktu jaga yang tersisa ini, perdarahan, keputihan, sungsang, kasep, hiperemesis, blablabla... TIDAAAKKKKKKK...
Seorang berkata pada saya, dokter yang baik harus memiliki tujuh sikap yaitu: empati, antusias, percaya diri, jujur, dan ehm.. yang tiga lagi apa ya?? (na kan, gara2 kurang tidur, otakku jadi ikut korslet, so sorry..), yayaya, I’ll try my best to be that kind of doctor...
Hari ini sangat panas dan begitu melelahkan (apalagi saya masih harus menservis TV 29 inch-ku yang tiba2 korslet akibat keterampilan tangan semata wayangku, hmmphh…), dan entah kenapa untuk menangis pun saya sudah nggak sanggup… Mungkin sekarang saatnya tidur...

Senin, 17 November 2008

harapan seorang ibu


Robert Frost (1874–1963).

The Road Not Taken

TWO roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
Dear friends,
puisi diatas (bila boleh kubersentimentil ria) adalah hadiah dari almarhum ibuku yang diberikannya lewat tulisan tangan ketika kami mendengar berita bahwa saya diterima masuk di FK salah satu universitas ternama di ibukota melalui program PPKB (seperti PBUD gitulah, tanpa perlu UMPTN, otomatis jadi mahasiswa), so she gave me this poem to remind me about the journey that i will have along the way... dari yang lahir dan besar di kota kecil, tiba2 sekarang harus hidup mandiri di ibukota, ibu yang selama ini saya pikir lebih menyayangi kakakku ternyata menunjukkan cintanya pada saya dengan caranya yang tidak biasa...
Dengan puisi ini, ibu berulangkali mengingatkan, hidup mempunyai banyak pilihan, mungkin jalan yang saya pilih sekarang tidak lebih baik bila dibandingkan dengan jika saya memilih untuk tidak menjadi dokter atau residen obgin seperti saat ini... namun kawan,
I took the one less traveled by,
And that has made all the differen
ce
Selama menjalani pendidikan di ibukota ataupun seperti sekarang di Bali, hidup saya tak melulu berisi dengan kegembiraan dan kesenangan, namanya anak daerah (sahabat Jakarta saya menyebut andar) perlu proses adaptasi, dari yang nggak lulus ujian, harus ujian her, terus mudik lebaran dengan waktu terbatas, sampai dengan yang paling parah adalah ketika di pendidikan spesialis, akibat keteledoran saya (yayaya, i admit it..) seorang ibu menjadi ruptur uteri dan terpaksa kehilangan bayinya yang telah dinanti2 selama 9 bulan.. semua orang sepertinya menjadi kecewa dengan saya dan saat itu dunia sepertinya sungguh tak bersahabat.
Tapi beruntunglah saya, punya sahabat2 yang tetap menyemangati dan saudara yang terus mendukung, termasuk beberapa guru saya yang mencoba mengerti situasi saat itu, hidup tak jadi berhenti buat saya meski penyesalan tak akan pernah terganti..
Setiap saat saya merasa jatuh, kecewa atau kehilangan semangat, maka saya akan mengingat hadiah ibuku ini dan menyadari bahwa hidup adalah suatu pilihan dan menyadari bahwa kebahagiaan itu adalah bagaimana cara kita menyikapi hidup itu sendiri...
Jadi kenapa harus bersedih dan berkeluh kesah?
Hidup terlalu sia2 untuk diisi dengan kesedihan.., so be happy, dear friends..







Minggu, 16 November 2008

Saatnya memimpin


Perjalanan memang memiliki awal dan akhir.. Seperti seorang bayi yang tumbuh di rahim ibu dan kemudian tiba waktunya ia menjalani hidupnya sendiri, mungkin seperti itu pulalah saya melihat perjalanan hidup saya sekarang ini...
Juli tahun 2004, awalnya saya memasuki dunia pendidikan spesialis, pertamakali kali (yang yunior2 ini) dianggap keset semata, senior minta kopi, kami sediakan, senior minta susu putih hangat di malam yang dingin, kami belikan, senior minta vcd2 syur, well, we have to give them.. (!!)... Dan kami dilarang mengeluh, karena hey... bukankah memang begitu tugas yunior??? Kalau males2an, nanti senior pun juga jadi 'males' dengan kami dan kami malah nggak mendapat bimbingan apa2... seperti kembali ke jaman batu rasanya...
Kemudian terus, terus dan terus pendidikan ini dijalani, dari keset, tiba2 jadi yang senior kelas menengah, boleh menyuruh tapi juga bisa disuruh, tergantung bagaimana kita menerimanya...
Well, anyway, ini adalah semacam perkenalan... Tiba2 setelah sekian lama pendidikan, tak terasa (hmmm, sebenarnya terasa juga ya...) sekarang sayalah yang jadi senior itu, sayalah yang berhak minta ini-itu ke keset2ku, saya yang menentukan siapa yang pantas mendapat warisan ilmu2 turunan antah berantah...
Sebenarnya ini juga terasa mengerikan buat saya... Tapi kalau selama ini masa2 keset sudah kujalani, mestinya menjadi atap rumah pun bisa kuatasi...
So my dear friends, doakan diriku menjadi senior yang baik untuk adik2ku ini...