Kunamakan putraku Wibisana Anugrah. Wibisana karena saya ingin ia menjadi orang yang tetap memihak kebenaran meskipun kejahatan dan kesewenang-wenangan menggodanya, yayaya... memang nama ini terinspirasi dari Wibisana, saudara Rahwana, raja Alengka si penculik Dewi Sinta, dalam pewayangan Ramayana. Anugrah dibelakangnya karena hadirnya putraku ini merupakan anugerah yang tiada tara yang telah dititipkan Sang Pemilik Kehidupan pada saya.
Saya memiliki Wibi saat baru masuk residen (senior2 keheranan, punya anak kok masuk sekolah, di obgin lagi..), jadi setelah umur tujuh hari, saya merelakan Wibi diasuh oleh eyang putrinya di Lombok sampai umur 3 bulan. Hanya tujuh hari waktu untuk mengenal putraku itu dan saat umurnya 3 hari, ksatria kecilku itupun terpaksa diopname di RS karena diare (Ya Allah, ibu macam apa saya ini?). Kakak saya yang mendampingi saat itu sampai menangis karena nggak tahan melihat perawat2 menusukkan jarum infus berulangkali (karena nggak berhasil menemukan pembuluh darahnya) sampai akhirnya pencarian berakhir di pembuluh darah kepala… Sedih banget ya, ibunya dokter, tapi merawat anak sendiri aja nggak bisa… dan sampai usianya tiga bulan, waktu libur kejepit di pendidikan lebih banyak saya gunakan untuk melihat perkembangan putraku di Lombok (masa2 itu saya harus sering2 merayu teman untuk rela tukar jaga.. what a life..) Empat tahun sudah berlalu, begitu banyak yang telah terjadi dalam hidup saya, diawali oleh meninggalnya ibu saya (tak terkira justru hadirnya sangat saya rindukan saat beliau telah tiada), ayah menikah lagi kurang dari setahun setelah ibu tiada (dan hal ini masih membuat hubungan kami merenggang hingga sekarang) dan yang paling parah adalah saya memutuskan untuk menjadi orang tua tunggal buat Wibi (yep, I decided to separate with my dear hubby) karena ternyata visi kami sudah tak sejalan lagi…
Seringkali muncul dalam benak saya, apa jadinya hidup dengan masalah begitu banyak dan Wibi tak ada ya? Teman2 menganggap saya perempuan yang kuat dan tabah, karena mereka sama sekali nggak pernah ‘melihat’ masalah di wajah saya yang selalu hepi, hepi, hepi… Padahal hati ini merintihhh…
Kunamakan putraku Wibisana Anugrah. Karena sekarang dia sudah mulai masuk playgroup dan (kebetulan) mulai belajar bahasa Inggris, lalu tadi sepulang kami dari bepergian, dia bertanya “Bu, bahasa Inggrisnya sepeda motor apa?”
“Apa ayo?” saya balik bertanya. “Motong tiker (dengan suaranya yang cadel itu)”
”Haaah, motong tiker??? ” saya keheranan, dia ketawa, ”Bukan, ibu ini kok ndak tau ciih..” ucapnya sok tua gituu...
Akhirnya setelah menebak beberapa kata yang kira2 dekat jawabannya dan Wibi makin terbahak2, akhirnya saya mulai paham, ”Aahh, motorcycle ya?”.
Lalu Wibi menatap wajah saya senang dan menahan tawa, ” Iya..”
”Haduuh, Wibi, Wibi, motorcycle kok jadi motong tiker siih...” akhirnya kami tertawa bersama2, bukan lagi seperti ibu-anak, tapi seperti sepasang sahabat yang menertawakan kekonyolan masing2. Saat itu saya menyadari... ksatria kecilku ini adalah hadiah terindah yang ada dalam hidupku dan tulisan ini harus berhenti karena it’s time for Wibi’s bedtime story...
1 komentar:
Bahagianya memiliki anak, yang menjadi tumpuan harapan, sekaligus sahabat kita yah... rasa lelah dan gundah itu hilang begitu melihat wajah lucunya ...
I wish that i'll have one like yours
lam kenal yah Lia, aku winda temennya Anik ^_^
Posting Komentar