Robert Frost (1874–1963).
The Road Not Taken
TWO roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
TWO roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
Dear friends,
puisi diatas (bila boleh kubersentimentil ria) adalah hadiah dari almarhum ibuku yang diberikannya lewat tulisan tangan ketika kami mendengar berita bahwa saya diterima masuk di FK salah satu universitas ternama di ibukota melalui program PPKB (seperti PBUD gitulah, tanpa perlu UMPTN, otomatis jadi mahasiswa), so she gave me this poem to remind me about the journey that i will have along the way... dari yang lahir dan besar di kota kecil, tiba2 sekarang harus hidup mandiri di ibukota, ibu yang selama ini saya pikir lebih menyayangi kakakku ternyata menunjukkan cintanya pada saya dengan caranya yang tidak biasa...
Dengan puisi ini, ibu berulangkali mengingatkan, hidup mempunyai banyak pilihan, mungkin jalan yang saya pilih sekarang tidak lebih baik bila dibandingkan dengan jika saya memilih untuk tidak menjadi dokter atau residen obgin seperti saat ini... namun kawan,
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference
And that has made all the difference
Selama menjalani pendidikan di ibukota ataupun seperti sekarang di Bali, hidup saya tak melulu berisi dengan kegembiraan dan kesenangan, namanya anak daerah (sahabat Jakarta saya menyebut andar) perlu proses adaptasi, dari yang nggak lulus ujian, harus ujian her, terus mudik lebaran dengan waktu terbatas, sampai dengan yang paling parah adalah ketika di pendidikan spesialis, akibat keteledoran saya (yayaya, i admit it..) seorang ibu menjadi ruptur uteri dan terpaksa kehilangan bayinya yang telah dinanti2 selama 9 bulan.. semua orang sepertinya menjadi kecewa dengan saya dan saat itu dunia sepertinya sungguh tak bersahabat.
Tapi beruntunglah saya, punya sahabat2 yang tetap menyemangati dan saudara yang terus mendukung, termasuk beberapa guru saya yang mencoba mengerti situasi saat itu, hidup tak jadi berhenti buat saya meski penyesalan tak akan pernah terganti..
Setiap saat saya merasa jatuh, kecewa atau kehilangan semangat, maka saya akan mengingat hadiah ibuku ini dan menyadari bahwa hidup adalah suatu pilihan dan menyadari bahwa kebahagiaan itu adalah bagaimana cara kita menyikapi hidup itu sendiri...
Jadi kenapa harus bersedih dan berkeluh kesah?
Hidup terlalu sia2 untuk diisi dengan kesedihan.., so be happy, dear friends..
1 komentar:
Selamat datang di dunia blog. Tulisannya bagus, inspiratif dan mengingatkan saya pada almarhum ibu saya.
Posting Komentar