
Dalam sedih, tiba-tiba teringatku pada ibu yang meski raganya tak lagi menemani tapi hadirnya selalu kurasakan.. Saat memandangi putraku, kuingat begitu pula dulu ibu membelai lembut rambutku sambil mendendangkan nina-bobo. Liburan ke pantai, meskipun ibu tak bisa berenang, tapi beliau menyemangati anak2nya supaya jago renang bahkan diving untuk melihat keindahan alam bawah air (akhirnya saya sukses bertemu ikan hiu sewaktu menyelam di Gili Terawangan). Liburan panjang sekolah, ibu selalu punya 1001 rencana seru, keliling Asia Timur, Eropa bahkan Amerika... Bagian terbaik adalah ketika saya melihat Museum Hermitage di St. Petersburg, keindahan dan kemegahannya sungguh menakjubkan (dulu sekali, saya pernah berjanji pada ibu, akan mengajaknya kembali kemari bersama keluargaku, karena perlu waktu lebih dari sehari untuk mengelilingi museum itu).
Kemana hidup membawa, kita tak pernah tahu... Begitu pula ketika ibu tiada, kesedihan bisa terhapus, tetapi tidak kerinduan.. Kerinduan pada kebiasaan-kebiasaan hidup sehatnya, food combining, jalan kaki pagi2 (seringkali kemudian ibu ketakutan karena dikuntit anjing tetangga), puasa 5 hari tiap salah satu dari kami mau ujian (biasanya sih ibu puasa buat saya, kenapa bukan saya yang puasa sendiri ya?), kebiasaan berbagi cerita saat makan siang bersama...
Dulu sekali ibu pernah bilang, ”Diantara anak2, kayaknya kamu yang paling ngerti ibu. Hobinya sama (kecuali olahraga!!), suka membaca, nonton film kuno (saya tergila2 dengan Fred Astaire dan Judy Garland, bintang Amerika thn 40-an, yang filmnya Easter Parade menjadi film favorit saya hingga kini), dan hobi sastra (bila ibu gemar membuat puisi dan mengarang cerpen dengan nama pena Siti Fatimah, saya lebih ekspresif dalam dunia teater dan berpuisi), bahkan zodiak pun sama”
Ibuku mungkin bukan ibu yang ideal sebagaimana ibu2 di sinetron Indonesia. Ia tak bisa memasak (rumah kami hampir terbakar sewaktu beliau mencoba memasak) begitu pula dengan pekerjaan rumah tangga lainnya (sehingga kami sungguh sangat tergantung pada pembantu), tak bisa menyetir (sehingga sangat tergantung pada sopir) dan tak mau membawa hp (karena males belajar menggunakannya). Tapi untuk anak2nya, ialah juaranya.. menonton adikku bertanding basket sampai ke Yogya, menonton pementasan teater saya, dan nasehat2nya yang tak ada habisnya untuk kami, apalagi saat kerusuhan thn 2001, ibu menjadikan rumah kami sebagai tempat penampungan sementara untuk teman2 Kristiani kami yang rumahnya hancur oleh karena amuk massa...
26 Januari 2005, ibu meninggalkan kami selama-lamanya. Ia sudah tak sanggup lagi melawan kanker paru yang makin berat menggerogoti tubuhnya.. Saat pemakamam, kami terhenyak dan takjub melihat begitu banyak orang yang mengantar kepulangannya di sisi Allah, kata kakakku, ”Ibu pasti bahagia ya, yang mengantar buannyaak bangett... terus cita2nya dikubur di dekat pantai pun tercapai...” Ternyata, dalam hidupnya ibuku dicintai dan akan selalu dikenang oleh begitu banyak orang..
Ibu pernah bilang, ”Waktu hamil kamu, hati ibu paling gembira dan senang... kamu sering ibu bacakan puisi dan dongeng terus kamu sepertinya ngerti lagi .. makanya kamu yang paling aneh diantara saudara2mu..”
Ibuku mungkin bukan ibu yang ideal, tapi sungguh saya sangat, sangat menyayanginya..
Semoga dimanapun ia berada, langkahnya selalu menuntun langkahku...
Cinta Melalui Kanker adalah puisi yang dibuat ibu sewaktu beliau sedang berperang melawan kanker endometrium pada tahun 1997 dan she survived... Puisinya ini adalah ungkapan terima kasih pada orang2 yang selalu memberi dukungan padanya, salah satunya yang saya muat disini adalah ungkapan syukurnya karena dukungan kami, anak-anaknya...
Tanpa anak-anakku
Ketika pamit dengan Cece kulihat air-muka yang tenang
Percaya diri yang besar
“Ibu” katanya pelan “Aku mempunyai perasaan sakitmu
tidaklah parah” “Akupun demikian”hiburku.
Siapa yang harus dihibur sebenarnya?
Penyakit ini meluluh-lantakkan keluargaku
Penderitaanku tak terlerai, tapi merekapun
Sangat menderita: cemas, was-was, berharap, berdoa.
Bungsuku kubelai sayang , kukatakan
Patuhlah pada yundamu,kunjungi aku kala libur.
Tak pernah ada sepatah katapun terucap darinya
Kecuali satu setengah tahun setelah pengobatanku
“Ibu, tidakkah kau harus periksa”
kali kedua dikatakannya, kujawab:
“Dokter mengatakan aku tak usah kontrol lagi”
air mukanya tampak gembira, karena dia
masih bisa melalui hari-harinya bersamaku.
Apa jadinya aku tanpa Lia?
Dari kampusnya di Salemba setiap hari dia pulang-pergi
Ketempatku yang jauh dari tempat kostnya.
Kampus ditinggal dulu, ah, buat menemaniku
Dengan tangannya yang erat menggandeng jari-jemariku
Akupun menjadi kuat, dan bisa menuliskan ini
Yang kuhadiahkan buatnya.
Kemana hidup membawa, kita tak pernah tahu... Begitu pula ketika ibu tiada, kesedihan bisa terhapus, tetapi tidak kerinduan.. Kerinduan pada kebiasaan-kebiasaan hidup sehatnya, food combining, jalan kaki pagi2 (seringkali kemudian ibu ketakutan karena dikuntit anjing tetangga), puasa 5 hari tiap salah satu dari kami mau ujian (biasanya sih ibu puasa buat saya, kenapa bukan saya yang puasa sendiri ya?), kebiasaan berbagi cerita saat makan siang bersama...
Dulu sekali ibu pernah bilang, ”Diantara anak2, kayaknya kamu yang paling ngerti ibu. Hobinya sama (kecuali olahraga!!), suka membaca, nonton film kuno (saya tergila2 dengan Fred Astaire dan Judy Garland, bintang Amerika thn 40-an, yang filmnya Easter Parade menjadi film favorit saya hingga kini), dan hobi sastra (bila ibu gemar membuat puisi dan mengarang cerpen dengan nama pena Siti Fatimah, saya lebih ekspresif dalam dunia teater dan berpuisi), bahkan zodiak pun sama”
Ibuku mungkin bukan ibu yang ideal sebagaimana ibu2 di sinetron Indonesia. Ia tak bisa memasak (rumah kami hampir terbakar sewaktu beliau mencoba memasak) begitu pula dengan pekerjaan rumah tangga lainnya (sehingga kami sungguh sangat tergantung pada pembantu), tak bisa menyetir (sehingga sangat tergantung pada sopir) dan tak mau membawa hp (karena males belajar menggunakannya). Tapi untuk anak2nya, ialah juaranya.. menonton adikku bertanding basket sampai ke Yogya, menonton pementasan teater saya, dan nasehat2nya yang tak ada habisnya untuk kami, apalagi saat kerusuhan thn 2001, ibu menjadikan rumah kami sebagai tempat penampungan sementara untuk teman2 Kristiani kami yang rumahnya hancur oleh karena amuk massa...
26 Januari 2005, ibu meninggalkan kami selama-lamanya. Ia sudah tak sanggup lagi melawan kanker paru yang makin berat menggerogoti tubuhnya.. Saat pemakamam, kami terhenyak dan takjub melihat begitu banyak orang yang mengantar kepulangannya di sisi Allah, kata kakakku, ”Ibu pasti bahagia ya, yang mengantar buannyaak bangett... terus cita2nya dikubur di dekat pantai pun tercapai...” Ternyata, dalam hidupnya ibuku dicintai dan akan selalu dikenang oleh begitu banyak orang..
Ibu pernah bilang, ”Waktu hamil kamu, hati ibu paling gembira dan senang... kamu sering ibu bacakan puisi dan dongeng terus kamu sepertinya ngerti lagi .. makanya kamu yang paling aneh diantara saudara2mu..”
Ibuku mungkin bukan ibu yang ideal, tapi sungguh saya sangat, sangat menyayanginya..
Semoga dimanapun ia berada, langkahnya selalu menuntun langkahku...
Cinta Melalui Kanker adalah puisi yang dibuat ibu sewaktu beliau sedang berperang melawan kanker endometrium pada tahun 1997 dan she survived... Puisinya ini adalah ungkapan terima kasih pada orang2 yang selalu memberi dukungan padanya, salah satunya yang saya muat disini adalah ungkapan syukurnya karena dukungan kami, anak-anaknya...
Tanpa anak-anakku
Ketika pamit dengan Cece kulihat air-muka yang tenang
Percaya diri yang besar
“Ibu” katanya pelan “Aku mempunyai perasaan sakitmu
tidaklah parah” “Akupun demikian”hiburku.
Siapa yang harus dihibur sebenarnya?
Penyakit ini meluluh-lantakkan keluargaku
Penderitaanku tak terlerai, tapi merekapun
Sangat menderita: cemas, was-was, berharap, berdoa.
Bungsuku kubelai sayang , kukatakan
Patuhlah pada yundamu,kunjungi aku kala libur.
Tak pernah ada sepatah katapun terucap darinya
Kecuali satu setengah tahun setelah pengobatanku
“Ibu, tidakkah kau harus periksa”
kali kedua dikatakannya, kujawab:
“Dokter mengatakan aku tak usah kontrol lagi”
air mukanya tampak gembira, karena dia
masih bisa melalui hari-harinya bersamaku.
Apa jadinya aku tanpa Lia?
Dari kampusnya di Salemba setiap hari dia pulang-pergi
Ketempatku yang jauh dari tempat kostnya.
Kampus ditinggal dulu, ah, buat menemaniku
Dengan tangannya yang erat menggandeng jari-jemariku
Akupun menjadi kuat, dan bisa menuliskan ini
Yang kuhadiahkan buatnya.
5 komentar:
Tulisan ini luar biasa. Saya bisa merasakan suasana bathin penulis. Sungguh punya kekuatan.
Thank you for the compliment. Mungkin saya merindukan ibu, karena semasa hidupnya banyak hal yang belum bisa saya lakukan untuk beliau.. sehingga yang teringat adalah hal2 yang indah tentangnya..
learn to cry like a baby, then the hurt won't comeback
Smileyson,when I met you in the darkness I just got a name without meaning. I believe the day after tomorrow you will recover me with frankly permission. I would like to return without any mission. This is only about you. Not about me. I send flowers to you without colour. I am so sorry about that. Again.....I will come soon
semua komentarnya begitu menyenangkan.. bila mengenang ibu, maka yang teringat adalah keindahan dan kebaikan
Thanks guys..
Posting Komentar